8 Faktor Pendukung Pendidikan Anak

keluarga muslim kartunFaktor Pendukung Pendidikan Anak. Masih Seputar Faktor Pendukung Pendidikan Anak yang coba kita bahas kali ini karena masih banyak faktor-faktornya. Setelah 5 Faktor Pendukung Pendidikan Anak, kemudian 6 Faktor Pendukung Pendidikan Anak dan selanjutnya 7 Faktor Pendukung Pendidikan Anak. Maka kali ini kita coba bahas 8 Faktor Pendukung Pendidikan Anak yang berikutnya:

1. Membiasakan mereka hidup prihatin, bersikap ksatria, rajin, bersungguh-sungguh, dan menjauhkan mereka dari sikap malas, lamban, serta bersantai-santai.
Tidak sepantasnya orang tua membiasakan anak bermalas-malasan, lamban, dan bersantai-santai. Orang tua justru harus mendorong mereka melakukan yang sebaliknya. Ini karena sikap malas dan lamban memiliki dampak negatif dan akan berakhir dengan penyesalan. Adapun sikap rajin dan kerja keras akan berdampak positif, baik di dunia maupun di akhirat, ataupun keduanya.

Oleh karena itu, orang yang paling tenang adalah orang yang paling payah dan orang yang paling payah adalah orang yang paling tenang. Kedudukan di dunia dan kebahagiaan di akhirat tidak akan tercapai melainkan melalui jembatan kepayahan.
Kelapangan hanya berujung penyesalan, sementara kepayahan akan berujung kelapangan. Benarlah orang yang mengatakan: “Kulihat pada kelapangan yang terbesar di akhirat takkan tercapai kecuali melalui jembatan kepayahan.

2. Membiasakan mereka memerhatikan waktu akhir malam.
Ini adalah waktu yang amat berharga. Waktu diperkenankannya segala permohonan. Barang siapa terbiasa menghidupkan waktu ini pada masa kecilnya, akan mudah baginya kelak di masa dewasa.

3. Menghindarkan anak dari berlebihan dalam makan, bicara, tidur, dan bergaul.
Kerugian akibat berlebihan dalam hal-hal ini adalah terluputnya kebaikan dunia dan akhirat. Oleh karena itu dikatakan, “Barang siapa banyak makan, dia akan banyak minum, lalu banyak pula tidurnya, hingga banyak kerugiannya.”

4. Menanamkan keinginan mereka untuk pergi ke masjid jika mereka masih kecil dan mengajak mereka shalat di masjid jika mereka sudah besar.
Orang tua haruslah menanamkan keinginan untuk pergi ke masjid sebelum mereka mencapai usia tujuh tahun. Dikatakan kepada si anak sepekan sebelumnya, bahwa sang ayah akan mengajaknya ke masjid. Ketika saatnya tiba, dia diajak ke masjid. Ayah harus pula menertibkan si anak ketika di masjid, tidak memperkenankannya banyak bergerak dan mengganggu orang shalat.

Jika anak sudah besar, orang tua wajib memerintahkannya shalat di masjid bersama jamaah kaum muslimin. Orang tua harus terus bersabar untuk menegakkan perintah ini.

5. Memantau minat anak, menumbuhkan bakat, dan mengarahkan mereka kepada hal-hal yang sesuai dengan minat mereka.
Di rumah, anak selayaknya mendapatkan hal-hal yang dapat menumbuhkan dan mengasah bakat mereka. Selain itu, selayaknya mereka juga mendapatkan orang yang bisa mengarahkan mereka untuk memperoleh hal-hal yang sesuai dengan bakat dan minat mereka.

Ibnu Qayyim RA mengatakan, “Sudah selayaknya orang tua bertindak sesuai dengan keadaan, minat, dan bakat anak. Begitu pula, orang tua semestinya menyadari bahwa si anak diciptakan dengan minat dan bakat tersebut, sehingga orang tua tidak mengarahkan anaknya kepada selain hal-hal yang diminati, selama hal itu diizinkan oleh syariat. Kalau orang tua mengarahkan si anak untuk menggeluti hal-hal diluar minatnya, anak itu pun takkan berhasil. Akan sia-sia pula bakatnya.”

jika orang tua melihat anaknya bagus pemahamannya, baik hafalannya (yang merupakan tanda bahwa dia mudah dan siap menerima ilmu) hendaknya orang tua mengukir ilmu itu di lembaran kalbu anak yang masih kosong ini. Jika orang tua melihat anaknya menyukai perniagaan dan jual beli, atau pekerjaan mubah apapun, hendaknya orang tua mendukungnya. Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang ditetapkan baginya.

6. Menumbuhkan keberanian yang dibarengi oleh adab.
Hal ini dilakukan dengan menyadarkan anak akan harga dirinya dan menumbuhkan rasa percaya diri, sehingga anak merasa mulia dan berani menyatakan pendapatnya (tentunya tetap dalam batasan adab dan kelayakan) jauh dari sikap nekat dan tak punya malu.

Sikap berani yang benar seperti ini akan memberikan rasa tenang, ketabahan, dan bertindak dengan penuh pertimbangan, tidak akan merasa bimbang, takut, lemah, rendah diri, dan ciut nyali.

7. Meminta pendapat anak.
Misalnya, meminta pendapat mereka tentang hal-hal yang terkait dengan rumah, atau meminta ide dan menerima usulan mereka tentang perabotan rumah, warna kendaraan yang akan dibeli ayah, tempat dan waktu bepergian, dan sebagainya. Orang tua kemudian mempertimbangkan berbagai pendapat yang mereka ajukan sekaligus meminta alasan dan sebab mereka mengajukan pendapat tersebut.

Selain itu, anak diberi kebebasan dalam memilih sendiri tas sekolah, buku, dan yang semacamnya. Jika pada pilihan mereka ada hal-hal yang dilarang dalam syariat maka dijelaskan kepada mereka.
Betapa besar andil tindakan seperti ini untuk menanamkan rasa percaya diri, menumbuhkan harga diri, melatih kemampuan berpikir, dan mempertajam bakat mereka. Betapa banyak hasil yang didapat, berupa terbiasanya si anak menyatakan pendapatnya.

8. Membiasakan anak melaksanakan tanggung jawab.
Misalnya, memuliakan tamu pada saat tidak ada orang tua, membiasakan mereka membeli sesuatu, mengatur keuangannya sendiri dengan memberikan uang saku pekanan atau bulanan, untuk kepentingan dirinya.

Semoga Bermanfaat
Terimakasih

This entry was posted in Informasi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s